Bencana gempa yang datang pada era dewasa dan banyaknya korban terutama akibat runtuhnya bangunan harusnya membuat kita semua berfikir., Apakah semua ini terjadi akibat besarnya gempa ?, ataukah ini terjadi akibat kualitas bangunan yang tidak standart ? ataukah akibat kedua duanya.
Pemenuhan kualitas bangunan terutama pada struktur bangunan sudah tidak bisa ditawar lagi tambahan biaya untuk standarisasi konstruksi bangunan tahan gempa kalau dibanding dengan akibat yang akan terjadi kalau kita sembrono tidak akan berarti.
Melalui tulisan ini penulis mengajak kepada seluruh pelaku konstruksi baik  pelaksana maupun perencana dan masyarakat umum untuk mulai mempertimbangan dan menggunakan standart bangunan tahan gempa dalam setiap kegiatan konstruksi bangunan untuk mengantisipasi apabila terjadi bencana gempa, sehingga tidak ada korban jatuh sia sia untuk sebuah alasan ekonomis.

Dari hasil pengamatan kerusakan yang dilakukan selama berapa tahun pada bangunan rumah tinggal, maka dapat dikelompokkan kerusakan menjadi 8 tipe, yaitu :
  1. Tipe kerusakan dinding akibat beban tegak lurus bidang dinding,
  2. Tipe dinding retak pada setiap sudut bukaan,
  3. Tipe dinding terpisah pada sudut dan pertemuan,
  4. Tipe dinding hancur pada pertemuan sudut,
  5. Tipe dinding terpisah pada sudut dan pertemuan,
  6. Tipe retak diagonal pada dinding yang terjadi melalui siar,
  7. Tipe retak diagonal pada dinding yang terjadi melalui unsur penyusunnya (bata atau batako),
  8. Tipe rangka atap lepas dari dudukannya, tipe kegagalan pada pertemuan balok dan kolom beton bertulang, tipe mutu bahan dan mutu pengerjaan yang buruk.
Kerusakan pada bangunan dengan konstruksi pasangan tanpa perkuatan pada umumnya disebabkan oleh :
  • Bangunan relatif berat
  • Bangunan tidak daktail
  • Bangunan tidak kuat menahan tarikan yang terjadi akibat gaya gempa yang bekerja di arah tegak lurus bidang dinding.
Kerusakan pada bangunan dengan konstruksi pasangan dengan perkuatan pada umumnya disebabkan oleh:
  • Tidak ada angkur untuk mengikat antara dinding dengan elemen perkuatannya (kolom dan balok).
  • Tidak ada elemen perkuatan untuk bidang dinding yang luasnya ≥ 6m2.
  • Detail penulangan yang tidak benar pada pertemuan elemen-elemen perkuatan.
  • Mutu beton dari konstruksi rangka balok dan kolom sangat rendah.
  • Diameter dan total luas penampang tulangan yang dipasang terlalu kecil, jarak antar sengkang yang dipasang terlalu besar
Semoga sedikit tulisan ini bisa membawa manfaat.
Terima kasih..!
sumber : pedoman_teknis_bangunan_tahan_gempa

Poskan Komentar Blogger

  1. thanks for tips2nya y broo
    salam kenal

    BalasHapus
  2. makasih tas info n tip2nya,
    sukses sluu ya gan...

    BalasHapus
  3. thanks for info n tips2 nya sukses sllu y gan salam kenal gann

    BalasHapus
  4. thanks gan for stuktur Homenya salam kenal good luck always

    BalasHapus
  5. thanks gan your Informasinya,salam kenal gan
    good luck

    BalasHapus
  6. informasinya mantap sekali nih gan , ane langsung coba ya gan

    BalasHapus
  7. masukan yang sangat bermanfaat sekali gan ,makasih banyak buat infonya

    BalasHapus
  8. emz info yg sangt menarik sekli nih,,
    semoga dpt bermnfaat.....

    BalasHapus

 
Top